banner 560

Pilpres 2024, Golkar Disandera AH

  • Bagikan
banner 560

 

Oleh : Muhammad Syukur Mandar
(Ketua Gerakan Golkar Baru)

Anda pernah menyaksikan adegan film penyanderaan yang kejam, menegangkan dan yang pasti memacu andrenalin kalau ditonton. Sebuah Film yang diperankan oleh Denzel Washington dan John Travolta dengan judul, The Taking of Pelham One Two Three, film yang di rilis pada tahun 1974.

Film ini diangkat dari novel karya John Godey, mengisahkan tentang komplotan penjahat yang membajak kereta api dan menyandera para penumpangnya demi mendapat tebusan sebesar $1 juta.

Ketegangan film ini adalah ketika kepala stasiun mencoba bernegosiasi dengan pimpinan komplotan sekaligus berusaha mengulur-ngulur waktu meski dalam tekanan, agar kepolisian dapat mencari dan menemukan cara, bagaimana bisa menyelamatkan penumpang didalam kereta tersebut.

Akhirnya dengan berbagai cara, para penjahat tersebut bisa dilumpuhkan dan kereta bisa dihentikan sebelum mencapai ujung rel yang buntu.

Film ini menarik sebagai ilustrasi tentang gestur politik Golkar hari ini. film ini bisa jadi teropong, bila ingin kita membaca gestur dan gaya Politik yang dimainkan oleh Golkar hari ini. Ada semacam grand disain pemaksakan AH sebagai Capres 2024.

Pemaksaan yang berujung diplomasi, gaya politik yang menyerupai film pembajakan kereta api pada cerita singkat diatas. Pada pembajakan atau penyanderaan Golkar hari ini bisa kita lihat pada dua motifnya ; Pertama, negosiasi posisi (bargaining) kelompok, dan, Kedua mengumpulkan pundi pundi dari pihak lain.

Pencapresan AH oleh Golkar harus diakui lebih menonjolkan sisi kekuatan media darling dan menonjolkan media disgusting. Pencapresan yang dimotivasi oleh kekuatan opini, pemanfaatan potensi Golkar (uang dan infrastruktur partai), menjadikan Golkar dari pohon beringin menjadi pohon bunsai, menyedihkan dan tentu menyesatkan juga bagi Golkar. Sedihnya, lakon politik penyanderaam Golkar ala AH ini menjadi satu tontonan yang seolah olah menarik. Padahal sesungguhnya mengkerdilkan bagi partai sekaliber Golkar.

Menariknya, para tokoh tokoh hebat Golkar sebagian besar asik ikut menyimak, menonton dan membiarkan upaya sistematis membonsai Golkar oleh AH dan kelompoknya berlangsung khidmat. Sebagian lainnya menari bersama dalam irama politik sandera gaya AH.

Entah kenapa sejenak kader kader hebat Golkar berubah dari pemberi, pemuka gagasan, pendebat dan pendukung demokrasi menjadi bermental tempe. Padahal kata bijak menyatakan, membiarkan kerusakan itu lebih bahaya dari orang yang melakukannya.

Politik sandera adalah gaya politik yang berujung diplomasi posisi. Wajar tentunya, dalam sebuah dialektika politik partai ada transaksi kepentingan politik. Tetapi kewajaran itu harus dilekatkan pada nilai kepentingan bersama, dan cara negosiasi posisi harus dilakukan dengan cara yang egaliter dan dengan prinsip menguntungkan kepentingan kader dan Golkar tentunya. Bukan sebaliknya dengan cara kotor, tidak menguntungkan kader, Golkar dan apalagi dengan cara politik yang menyadera atau sekedar menjadikan Golkar sebagai alat mencapai tujuan pribadi dan kelompoknya.

Pencapresan AH dapat dibaca sebagai negosiasi politik tertutup pada kepentingan Pilpres 2024. Negosiasi itu lebih saya pahami sebagai spekulasi politik. Meskipun hemat saya, spekulasi politik pencapresan AH tidak akan menuai hasil sesuai harapan mereka. Spekulasi politik AH hanya bertujuan memperoleh atau mendapatkan kesempatan ketika akan melakukan diplomasi atau transaksi politik dengan pihak lain atau Capres lain yang potensial.

Mengapa saya katakan ada spekulasi ? karena pencapresan AH berbasiskan kekuatan opini media darling dan media disguting, bukan kekuatan dukungan rakyat. Gaya politik pencapresan AH oleh Golkar, bagi saya tidak lebih dari sekedar pameran politik, yang tujuannya memperkenalkan merek dan menawarkan prodak.

Semua asumsi saya, parameternya objektifitas, karena satu hal, dimana AH dianggap pengamat dan dibuktikan oleh berbagai survei, presentasi dukungannya nol sampai 1 persen koma saja elektabilitasnya.

Artinya disain pencapresan AH oleh segelintir elite DPP Golkar hari ini, adalah sekedar upaya melanjutkan perjuangan mereka (segelintir elite golkar) memelihara kekuatan status quo, oligarki partai yang menyandera Golkar dan berpotensi menghancurkan Golkar dimasa datang.

Politik Golkar ala AH, saya yakini hanya sekedar menjadikan Golkar sebagai tumbal atau tepatnya kelinci percobaan. Golkar hanya tumpangan atau jembatan kepentingan semata, politik Golkar ala AH tidak didasari pada proyeksi kepentingan jangka panjang Golkar.

Sederhana alasannya, kita tidak melihat ada gairah (visi besar) dari AH memimpin Golkar, yang menonjol dari politik Golkar ala AH hanyalah sahwat ingin jadi presiden dan atau bertahan pada posisi atau untuk sekedar tetap ada dalam struktur kekuasaan semata.

Partai Golkar mestinya menjadi lokomotif, penentu, dan tentunya Golkar sangatlah mampu menentukan arah politik 2024 dengan proyeksi yang lebih baik dari sekedar bargaining. Sayang sekali, partai sehebat Golkar harus mengurung diri, menutup ruang bagi capres potensial yang didukung rakyat. Apalagi Golkar memaksa menjual produk gagal dibursa capres 2024.

Begini ya, reasoning politik Golkar hari ini mudah ditebak, manuver politik AH dan kelompoknya bukan untuk kepentingan Golkar tetapi lebih dominan pada kepentingan kelompok orang dalam dan menguasai Golkar. Karena itu mudah ditebak, ujungnya hanya ingin membangun koalisi dan menyodorkan AH maksimal di posisi wapres di pemilu 2024, tentu dengan menawar sejumlah posisi lainnya.

Langkah ini yang saya yakini keliru dan sulit dicapai. Sebab potensi AH amatlah kecil, sulit bagi Capres potensial menggandeng AH sebagai wapres, karena AH berpotensi menggerus dukungan rakyat pada Capres yang berani menggandeng AH sebagai wapres. Kalkulasinya jelas dan rasional. Ada something pada AH yang dibaca publik sebagai masalah serius.

Karena itu saya sarankan Golkar untuk menganti kemasan politiknya. Tidak dengan menggunakan lebel pencapresan AH sebagai alat bargaining posisi, karena akibatnya akan sangat merugikan Golkar dan nilainya tidak sebaik dengan bila AH legowo, kemudian membuka ruang konvensi Capres, melibatkan tokoh partai potensial dan non partai, lalu pemenangnya ditetapkan dan kemudian ditugasi bekerja konsolidasi ke berbagai daerah memanfaatkan infrastruktur Golkar serta dukungan pada dirinya untuk memaksimalkan kemenangan Golkar dipemilu 2024.

Kalau langkah ini dilakukan, maka Golkar menang pada dua hal, satu Pileg 2024 akan makin kuat, kedua, ada potensi Golkar memiliki dan menangkan pemilu Presiden 2024.

Saya yakini bahwa memaksakan kehendak mencapreskan AH adalah bentuk lain dari menyandera Golkar, menjadikan Golkar sebagai alat bargaining kepentingan pribadi dan kelompok semata. Bukan ansih kepentingan Golkar yang dikedepankan. Karena itu saya himbau kepada seluruh kader Golkar yang masih respek pada masa depan Golkar, ayo gabung dengan pikiran dan gerakan moral saya, kita perjuangan gagasan Golkar baru, dengan mengusung tiga konsep besar ;

Pertama, Golkar Go Publik.
Kedua, penyehatan kader partai, melalui akselarasi kepemimpinan Partai lintas generasi, sebagai respon politik milenial, politik digital dan menyambut hadirkan kekuatan generasi Z.
Ketiga, perbaikan sistem rekrutmen kepemimpinan nasional dengan sistem konvensi, sebagai wujud partisipasi Golkar, selain itu Golkar menjawab dan memenuhi aspirasi kader dan rakyat dalam penentuan pemimpin nasional.

Pada tiga gagasan besar, gerakan Golkar baru, inilah yang saya maksudkan sebagai jawaban atas matinya demokrasi Golkar dan menyelamatkan Golkar dari sandera Kepentingan orang perorang dan atau segelintir orang di DPP partai Golkar hari ini.

  • Bagikan