banner 728x250
Berita  

Sanggar Budaya Waidoba Usulkan Tarian Togal dan Soya-Soya Masuk Muatan Lokal di Satuan Pendidikan

Suryadi Fadel Ketua Sanggar Budaya Waidoba Saat Memberikan Sambutan Padan Kediatan Festival Budaya Yang Berlangsung di Desa Ori.akurunga (Doc Infomalut.com)

HALSEL – Sanggar Budaya Waidoba mengusulkan agar tarian tradisional Togal dan Soya-Soya dapat dimasukkan sebagai mata pelajaran muatan lokal di satuan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah, sesuai dengan kebijakan dan kurikulum yang berlaku.

Usulan tersebut disampaikan Ketua Sanggar Budaya Waidoba, Suriyadi Fadel, S.Pd., dalam sambutannya pada kegiatan Festival Budaya yang berlangsung di Desa Orimakurunga, Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara, pada 26–27 Oktober 2026.

Di hadapan para peserta anak-anak sekolah undangan dari Bapak-Ibu Guru SD, SMP dan SMA dan Fauziah Rasid. S.S. M.Si yang mewakili Kepala Balai dan Tim Dari Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku Utara. Suriyadi berharap ada tindak lanjut dari Balai Pelestarian Kebudayaan kepada dinas terkait sebagai Mitra kerja.

Dalam sambutannya, Suriyadi menegaskan, pelestarian budaya daerah tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan pada acara festival atau kegiatan seremonial. Namun, diperlukan langkah nyata dan berkelanjutan untuk memperkenalkan, mengajarkan, serta mewariskan seni dan tradisi lokal kepada generasi muda melalui dunia pendidikan.

“Kami dari Sanggar Budaya Waidoba mengusulkan agar tarian Togal dan Soya-Soya dapat menjadi bagian dari mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Dengan demikian, anak-anak kita tidak hanya mengenal budaya daerah melalui cerita, tetapi juga belajar secara langsung tentang gerakan tari, makna, nilai sejarah, serta filosofi yang terkandung di dalamnya,” ungkap Suriyadi.

Ia menjelaskan bahwa tarian Togal merupakan salah satu kekayaan seni budaya yang hidup di tengah masyarakat, khususnya di wilayah Makian-Kayoa dan sekitarnya. Sementara itu, Soya-Soya juga merupakan warisan seni tarian tradisional Asal Kayoa. Maluku Utara yang memiliki nilai sejarah, semangat perjuangan, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat.

Menurutnya, kedua tarian tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sarana pendidikan karakter bagi peserta didik. Melalui pembelajaran seni tari tradisional, siswa dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri, meningkatkan kedisiplinan, memperkuat kerja sama, serta menghargai warisan leluhur.

Suriyadi juga menekankan bahwa masuknya seni budaya lokal ke dalam pembelajaran di sekolah dapat menjadi langkah strategis untuk mencegah generasi muda kehilangan pengetahuan mengenai identitas dan tradisi daerahnya sendiri di tengah perkembangan zaman.

“Jangan sampai generasi kita lebih mengenal budaya dari luar, tetapi justru tidak mengetahui tarian, adat istiadat, dan warisan budaya yang tumbuh di daerahnya sendiri. Sekolah harus menjadi salah satu ruang penting untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini,” tambahnya.

Lebih lanjut, Sanggar Budaya Waidoba berharap usulan tersebut mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, para kepala sekolah, guru, tokoh adat, serta seluruh pemangku kepentingan terkait.

Sanggar Budaya Waidoba juga menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan pihak sekolah dalam menyediakan pendampingan, pelatihan dasar tari, pengenalan sejarah dan filosofi tarian, serta keterlibatan para pelaku budaya atau maestro sebagai narasumber pembelajaran.

Menurut Suriyadi, kolaborasi antara sanggar budaya dan satuan pendidikan sangat penting agar proses pewarisan tradisi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memberikan pengalaman praktik secara langsung kepada peserta didik.

Kegiatan Festival Budaya di Desa Orimakurunga sendiri menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan lokal. Selain menampilkan tarian Togal dan Soya-Soya, kegiatan tersebut juga mengangkat tradisi pembuatan sagu sebagai bagian dari pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat.

Melalui festival ini, Sanggar Budaya Waidoba berharap pelestarian budaya tidak berhenti pada panggung pertunjukan, tetapi berkembang menjadi gerakan pendidikan dan kebudayaan yang berkelanjutan.

“Melestarikan budaya berarti menjaga identitas, menghormati warisan leluhur, dan menyiapkan generasi penerus. Kami ingin Togal dan Soya-Soya tetap hidup, dikenal, dipelajari, dan diwariskan kepada anak cucu kita,” tutup Suriyadi.

Dengan adanya usulan tersebut, Sanggar Budaya Waidoba berharap tarian tradisional Togal dan Soya-Soya semakin mendapat tempat dalam dunia pendidikan, sehingga kekayaan budaya Maluku Utara dapat terus tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Sementara itu dalam sambutannya Fauziah Rasid. S.S. M.Si mengatakan, Ia membawa pesan dari Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku Utara Muhammad Tang S.S. M.Hum berharap masyarakat terus menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan daerah sebagai identitas bangsa serta warisan berharga bagi generasi mendatang.

Zhia juga mengatakan Pesan tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak melupakan nilai-nilai budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Kebudayaan bukan sekadar tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan juga cerminan jati diri, sejarah, dan kearifan lokal yang membentuk karakter masyarakat.

Baginya Balai Pelestarian Kebudayaan terbuka bagi siapa saja untuk mengusulkan proposal dan progam untuk pengembangan Budaya di daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Pemajuan Kebudayaan.

“UU ini fokus pada 10 Objek Pemajuan Kebudayaan seperti tradisi lisan, adat istiadat, seni, olahraga tradisional, dan lainnya” Tutupnya.

banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250