Oleh : MOHAMMAD A. ADAM MINANGKABAU

Berdasarkan catatan perjalanan hidup rumpun manusia yang terlahir di pulau makian adalah anugerah bagi negeri Almulkiyah atau Moloku Kieraha, ternyata pulau ini melahirkan manusia-manusia tangguh dalam menaati kehidupanya secara entitas maupun komunitas walaupun mereka dihadapkan dengan masa sulit dan ketimpangan kekuasaan kerajaan atau kesultanan serta permasalahan alam yang selalu menjeratnya ditengah kehidupan manusia dipulau ini, jejak perjalanan kehidupan manusia dipulau ini telah banyak melahirkan tulisan tentang serajah peradaban yang ditulis oleh para peneliti sejarah dan alam diatas pulau Magma yang dikenal dengan Gunung Kiebesi, mari kita lihat catatan perjalanan dan tempaan bencana yang terjadi di pulau Makian dijamanya mengakibatkan banyak korban swerta memaksa untuk berpindah dan dipindahkan oleh pemerintah kita lihat jejak Pulau Makian.
PULAU MAKIAN DAN KESULTANAN I DIBENTUK TAHUN 1322
Suku bangsa Makian awal mulanya mendiami Pulau Makian kemudian sebagian berpindah kedaratan Pulau Kayoa Kawasan pulau ini dikenal dengan Gugus Pulau MAKAYOA terletak di bagian Selatan Barat Maluku Utara bentangan gugus pulau sedang dan pulau kecil dari Pulau Makian, pulau Kayoa hingga Pulau Kasiruta yang saat ini berada di Wilayah Kabupaten Halmahera Selatan Jumlah populasinya hingga saat ini sekitar 48.000 jiwa. Mereka nampaknya terbagi ke dalam dua subsuku bangsa, yaitu orang Makian Barat dan orang Makian Timur. Kelompok yang pertama berdiam di bagian barat Pulau Makian dan disebut juga orang Makian luar. Bahasa mereka disebut bahasa Jitine atau Desite, termasuk kelompok bahasa Austronesia. Kelompok Jitine menyebut Pulau Makian dengan nama Pulau Moi. Sedangkan kelompok yang kedua mendiami Pulau Makian bagian timur, karena itu sering juga disebut orang Makian Dalam. Bahasa mereka disebut bahasa Tabayama yang tergolong ke dalam kelompok bahasa Papua. Orang Tabayama ini menyebut Pulau Makian dengan nama Taba
AWAL KERAJAAN MAKIAN BERPINDAH KE BACAN

Kedudukan awal Kerajaan Bacan bermula di Makian Timur, kemudian dipindahkan ke Kasiruta lantaran ancaman gunung berapi Kie Besi. Kebanyakan rakyat Bacan adalah orang Makian yang ikut dalam evakuasi bersama rajanya. Menurut perkiraan, Kerajaan Bacan didirikan pada 1322. Tidak jelas bagaimana proses pembentukannya, tetapi bisa ditaksir sama dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Maluku, yakni bermula dari pemukiman yang kemudian membesar dan tumbuh menjadi kerajaan. Raja pertama Bacan, menurut hikayat Bacan, adalah Said Muhammad Bakir, atau Said Husin, yang berkuasa di gunung Makian dengan gelar Maharaja Yang Bertakhta Kerajaan Moloku Astana Bacan, Negeri Komala Besi Limau Dolik.
Raja pertama ini berkuasa selama 10 tahun, dan meninggal di Makian. Pada 1343, bertakhta di Kerajaan Bacan Kolano Sida Hasan. Dengan bekerja sama dengan Tidore, Sida Hasan berhasil merebut kembali Pulau Makian dan beberapa desa di sekitar pulau Bacan dari tangan Raja Ternate, Tulu Malamo. Mata Rantai Penguasa Bacan Kronik Bacan menyebutkan bahwa Sida Hasan naik takhta menggantikan ayahnya Muhammad Hasan. Pada masa Sida Hasanlah terjadi evakuasi dari Makian ke Bacan. Orang-orang Makian yang dievakuasi ke Bacan menempati kawasan Dolik, Talimau dan Imbu-imbu.Raja yang berkuasa di Bacan setelah itu adalah Zainal A bidin. Kronik Bacan tidak menjelaskan kapan Sida Hasan maupun Zainal Abidin berkuasa.
PULAU MAKIAN DIANGGAP SEBAGAI KAWASAN BENCANA ABADI

Data Expedisi Cicin Api
sejak masa kolonial kerap diungsikan karena terjadi letusan Gunung Kie Besi. Saat gunung dengan ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut ini meletus pada 1760, sekitar 5.000 orang diungsikan kawasan terdekat seperti pulau Kayoa, Pulau Moti hingga ke Ternate. penduduk di Pulau Makian sejak masa kolonial kerap diungsikan karena terjadi letusan Gunung Kie Besi. Saat gunung dengan ketinggian lebih dari 1.300 meter di atas permukaan laut ini meletus pada 1760, sekitar 5.000 orang diungsikan ke Ternate.
Satu abad berselang atau tepatnya pada 1861, Gunung Kie Besi kembali meletus dan sekitar 6.000 penduduk diungsikan ke Pulau Moti. Sempat tertidur 29 tahun, Kie Besi melontarkan bebatuan dan lava pijar pada 1890 selama dua hari. Namun, tak ada data rinci tentang bagaimana letusan itu terjadi dan berapa banyak korban yang jatuh.
Letusan besar terakhir Kie Besi terjadi pada 29 Juli 1988 dan membuat semua warga Pulau Makian diungsikan ke daratan Halmahera Utara tepatnya di Desa Dum Dum dan Taba Hijrah serta pulau-pulau sekitarnya. Dalam catatan sejarah, letusan gunung ini sudah membunuh lebih dari 5.000 jiwa sejak tahun 1550
- Daya Dukung Infrastruktur
Kurangnya sejumlah infrastruktur di Pulau Makian beralasan lantaran wilayah ini memiliki potensi bencana yang dikategorikan sebagai kawasan bencana abadi berupa letusan gunung api Kie Besi yang masih aktif sampai saat ini. Wilayah kepulauan Maluku Utara juga masih rawan akan gempa tektonik dan vulkanik
- Keputusan Gubernur Maluku dan Bupati Kab. Maluku Utara
Riwayat letusan dahsyat tersebut membuat Bupati Maluku Utara saat itu mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 9/19-I/MU/75 tanggal 30 Juni 1975 tentang pengosongan Pulau Makian dari aktivitas pemerintahan dan penduduk. Keputusan tersebut diambil setelah Direktorat Vulkanologi Bandung—sekarang Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi—menyimpulkan seluruh wilayah di pulau kecil itu rawan dilanda letusan Gunung Kie Besi.
- Penduduk asli Pulau Makian tidak bisa lepas dari tanah leluhurnya.
Masyarakat Pulau Makian adalah salah satu komunitas masyarakat pulau yang memiliki keteguhan hidup dengan Doro bolonya (MOTO) “ Nik Wah lo Maso biar tapsek tasakal koik kahates” Artinya Kampung Halamanku biar hancur berkeping takan kutinggalkan dari moto ini kita bias lihat ketika terjadi rangkaian bencana berganti bencana mengakibatkan ”Semua milik warga berupa Pertanian dan Perkebunan serta ternak yang ada, baik bangunan di Pulau Makian, hancur terkena letusan Kie Besi. Yang tersis walau hanya pohon kenari yang masih kokoh berdiri terkena letusan,” kami akan balik untuk hidup dibawa KIEBESI karena di Yakini Allah Ciptakan Alam untuk kehidupan apapun yang terjadi diatas tanah kami tetap dicintai selama hayat dikandung badan
”HARTA KARUN SPESIFIK PULAU MAKIAN

Terlepas dari kondisi alam atas ancaman bencana Alam di pulau Makian tidak lepas kekuarangan kesiapan sarana prasarana serta infrastruktur yang kurang memadai, Pulau Makian sejatinya memiliki khasanah Budaya, serta daya dukung kepualaun di Jazirah Pulau pulau Guraici serta ”HARTA KARUN SPESIFIK PULAU MAKIAN ” yang belum diolah secara optimal. Harta karun itu adalah pohon kenari. Yang dikenal dengan pulau Penghasil Buah Kenari terbesar serta tergurih di Timur Indonesia khusunya Maluku Utara.

Dari uraian prasejarah hingga kekinian kita sadari bahwa kultur dan budaya masyarakat yang lahir dan hidup diatas pulau ini memiliki banyak pebedaan dalam keseharianya salah satunya adalah bahasa, bila dilihat dari kontur pulau tidak ada belahan laut atau tanjung yang mencolok dan jarak tempuhnya jauh hingga dapat membatasi hubungan antar desa yang berada di belahan Timur dan Barat pulau ini, antar desa hanya dibatasi oleh sungai atau kali mati hanya berfungsi ketika musim hujan, inilah Kekaayaan Illahiyah yang diberikan oleh Sang pencipta untuk kecerdasan masyarakat dipulau yang penuh dengan tantangan alamnya. Dari sinilah kita mencoba untuk menyelusuri jejak kehidupan masyarakat pulau makian yang telah banyak melahirkan orang orang tangguh dalam menghadapi setiap permasalahan dimana membuktikan bahwa Pulau Makian telah banyak melahirkan desa-desa tangguh yang tersebar di Maluku Utara dengan anugerah Illahiyah atas kekayaan manusia untuk negeri moloku kieraha sepatutnya menjadi tumpuan perjalanan Provinsi Maluku Utara menuju Masyaralkat Kepulauan yang damai dan sejahtera, dasar pijak peradaban ini sepatutnya memperkuat langkah maju masyarakat kepulauan Maluku Utara untuk memandirikan wilayahnya agar kawasan ancaman menjadi kawasan unggulan dari semua sector.
KAWASAN ANCAMAN BENCANA MENJADI KAWASAN UNGGULAN

Pulau Makian memiliki catatan bencana letusan Gunung Kie Besi yang membuat penduduk terpaksa harus diungsikan dan sempat mendapat rekomendasi untuk tidak kembali ditinggali. Namun kini, masyarakat Makian mulai mengubur catatan kelam itu karena ada potensi kenari dan hasil hutan bukan kayu lainnya yang belum sepenuhnya terolah dengan optimal.
Dari sinilah Peran pemangku kebijakan daerah maupun pusat dapat menarik kembali konsep saduran tentang kawasan bencana yang dipangku oleh GUGUS PULAU MAKAYOA MENJADI KAWASAN UNGGUAN maka dengan Konsep Otonomi Baru maka akan dapat menata kembali ketertinggalan Wilayah yang selama ini terasa tersingkirkan oleh egoisme sektoral yang terjadi. Kawasan ini membutuhkan keseriusan Pemerintah untuk menatanya secara parsial demi mengurangi resiko jangka menangah maupun jangka panjang yang aman dan damai dengan konsep Membangun Kawasan ancaman menjadi Kawasan tangguh bencana dengan tujuan sebagai berikut :
- Melindungi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bahaya dari dampak-dampak merugikan bencana;
- Meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan pemeliharaan kearifan lokal bagi pengurangan resiko bencana;
- Meningkatkan kapasitas status pemerintahan dari kecamatan ke Kabupaten dalam memberikan dukungan sumber daya dan teknis bagi pengurangan resiko bencana;
- Meningkatkan kerjasama antar para pemangku kepentingan dalam PRB (Pengurangan Resiko Bencana), pihak Pemerintah Daerah, sektor swasta, perguruan tinggi, LSM, organisasi masyarakat dan kelompok kelompok lainnya yang peduli.
BELAJAR DARI HAWAII HONOLULU

Dengan pesatnya Teknologi masa kini kawasan bencana khusunya gunung api tidak lagi menjadi simbol ketakutan atas ancaman dilihat dari berbagai Negara yang telah menggunakan teknologi sebagai pemandu dalam menata kawasan anacaman sebagai kawasan unggulan kita bias lihat bagaiamana Amerika Serikat menata kawasan pulau di bentangan samudera pasifik seperti Kepualaun Hawai
Sebagai Negara kepulauan dan negara bagian dari Amerika Serikat, Hawaii sangat rentan terhadap bencana alam. Apalagi kepulauan ini terbentuk dari proses letusan gunung berapi ribuan tahun lalu.
Kepulauan ini hampir 99 persen terbentuk dari aliran lava dari gunung api dan gumpalan magma yang muncul ke permukaan bumi, lalu membentuk perisai gunung berapi. Sekarang dijadikan lokasi wisata vulkanis di Hawaii. Orang juga datang ke Big Island untuk mempelajari keunikan gunung berapi dan aliran lavanya. Bagamana memanfaatkan Vulkanologi Sebagai Sarana Mitigasi untuk Kawasan Gunung Api dan Pemanfaatan Geothermal untuk Peningkatan dan Pengembangan Wilayah Pemanfaatan Geothermal untuk Pengembangan wilayah
Sumber daya panas bumi sangat bermanfaat karena dapat di ekstrasi secara ekonomis karena di gunakan untuk tenaga pembangkit listrik oleh industri atau sektor terkait. Keadaan teknologi saat ini membuat pembor-an untuk mencari sumber panas bumi menjadi lebih mudah meskipun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setelah di identifikasi potensi panas bumi kemudian di lakukan eksplorasi.
Geothermal mempunyai banyak manfaat untuk pertumbuhan di suatu wilayah karena terdapat sumber tenaga yang bersih. Energi geothermal tidak mengandung polutan kimiawi, dan tidak mengeluarkan limbah, dan hanya mengandung sebagian air yang dapat di injeksikan Kembali ke bumi (Citrosiswiyono, 2008). Pemanfaatan geothermal di mulai dengan eksplorasi daerah geothermal untuk mengetahui seberapa besar sumber daya geothermal yang bisa berguna baik listrik maupun non-listrik.
Di Islandia pertumbuhan ekonomi salah satunya di sebabkan oleh panas bumi, Rumah kaca, komponen penting dari pertanian di panaskan oleh mata air dari sumur air panas. Banyak sumber panas bumi yang di bor dan di jadikan sumur air panas. Di Itali Dilakukan Eksplorasi geokimia dan menyoroti adanya sumber air panas. Wilayah yang di teliti di dominasi CO2-N2. Dengan adanya sumber panas bumi ini dapat di prediksi bahwa perekonomian daerah akan sangat menguntungkan dengan menggunakan energi panas bumi untuk produk tenaga pembangkit listrik. Di Jepang, wisata geothermal cukup terkenal. Kebanyakan orang yang berkunjung ke Jepang khusus nya wisatawan internasional mengunjungi pemandian air panas berbasis alam. Selain itu terdapat juga gunung berapi seperti gunung Unzen dan Gunung Sakurajima yang di kunjungi untuk keperluan studi maupun wisata alam. Wisata gunung berapi di jepang perlahan di integrasikan kedalam pemasaran daerah untuk pengembangan daerah tersebut. Salah satu sumber panas bumi yang ada di Pulaum Makian yaitu Sumber Air Panas Pawate atau peleri yang merupakan taman wisata pemandian air panas Ploili Pulau Makian.
Dari pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa:
- Bahaya dari letusan gunung berapi bisa berdampak pada makhluk hidup, lingkungan, kerusakan bangunan, bahkan dapat mengakibatkan mesin pesawat rusak. maka di perlukan sosialisasi terkait bahayanya dan apa saja yang harus di lakukan untuk menghindari bahaya tersebut .
- pulau yang memiliki sumber panas bumi memanfaatkanya dengan maksud untuk pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wisata daerah tersebut. Manfaat lain yaitu energi panas bumi di jadikan tenaga pembangkit listrik untuk industri yang memerlukan tenaga listrik lebih. Dengan di lakukannya eksplorasi sumber panas bumi tersebut dapat di kelola.
KEMANDIRIAN WILAYAH KABUPATEN GUGUS PULAU MAKAYOA

Wilayah Gugus pulau yang dikenal sebagai kawasan gunung berapi sepatutnya menjadi perhatian khusus pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tidak dilihat sebagai kawasan ancaman bencana tapi sebagai kawasan unggulan dalam prepektif ekonomi
Kemampuan ekonomi atau status ekonomi suatu kawasan sangat menentukan tingkat kerentanan terhadap ancaman bahaya. Pada ummnya masyarakat di pulau pulau kecil yang kenal daerah miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya, karena tidak memiliki kemampuan daya dukung Infrastruktur yang memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana sejak awal. Makin rendah sosial ekonomi akan semakin tinggi tingkat kerentanan dalam menghadapi bencana. Bagi masyarakat di kawasan pulau dengan daya dukung sarana dan prasarana yang kuat, pada saat terkena bencana, dapat cepat tertangani dengan terencana.
KEHADIRAN SOEKARNO DI PULAU MAKIAN TAHUN 1954

Dengan penetapan kawasan GUGUS PULAU MAKAYOA di yakini kawasan ini akan cepat terpacu pemabangunanya di wilayah Kabupaten Kota yang berada di provinsi Maluku Utara, INDOENSIA TANPA KEPULAUAN MAKAYOA BUKANLAH NKRI dimana tahun 1954 Bapak Soekarno Presiden Pertama Indonesia mengunjungi pulau Makian sebagai langkah maju memperkuat Kawasan Maluku Utara dalam merebut kembali Papua Barat untuk masuk ke Negera Kesatuan republic Indonesia (NKRI HARGA MATI)
Demikian rangkuman tulisan ini semoga menjadi bahan kita menuju jalan pintas Kabupaten Gugus Pulau MAKAYOA.
PESAN PARA TOKOH
“Perjalanan Perdaaban Panjang Negeri Gugusan Kepulauan Makayoa Adalah Patokan Sejarah Dan Asal Sulu Almulkiyah Maka Dengan Jalan Apapaun Negeri Harus Mandiri Seperti Saudara – Saudaranya Telah Menikmati Makna Dari Pancasila Pada Sila Ke Empat Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
” KAMI AKAN TERUS BERJUANG DENGAN KEKUATAN DAN KETERSEDIAAN SUMBERDAYA YANG KAMI PUNYA PEMEKARAN KABUPATEN GUGUS PULAU MAKAYOA HARGA MATI”





