Penulis : Jamal Adam
Alumni PGA tahun 1991
Penutupan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) pada awal dekade 1990-an bukan sekadar perubahan kebijakan pendidikan nasional, melainkan sebuah titik balik sejarah bagi ribuan alumni yang pernah ditempa di lembaga tersebut.
PGA, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pencetak guru agama di Indonesia, secara resmi dihentikan melalui kebijakan pemerintah yang mengintegrasikan pendidikan keguruan ke dalam sistem pendidikan menengah dan pendidikan tinggi keagamaan. Kebijakan ini antara lain merujuk pada Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 1992, yang menandai berakhirnya PGA sebagai lembaga pendidikan keguruan tingkat menengah.
Meski demikian, berakhirnya PGA sebagai institusi formal tidak serta-merta mengakhiri nilai dan semangat yang diwariskannya. Nilai-nilai tersebut justru menemukan jalannya sendiri melalui para alumni yang terus mengabdi di berbagai ruang kehidupan. Di Maluku Utara, daerah kepulauan yang memiliki tantangan geografis dan sosial yang tidak ringan, alumni PGA tumbuh menjadi pendidik, tokoh agama, aparatur pemerintahan, penggerak sosial, hingga pelaku konservasi lingkungan.
Pengabdian para alumni PGA di Maluku Utara tidak dapat dilepaskan dari konteks kewilayahan. Provinsi Maluku Utara termasuk dalam kategori daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) sebagaimana ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015–2019, yang kemudian diperbarui dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020–2024. Sejumlah wilayah di Maluku Utara, terutama daerah kepulauan dan pedalaman, masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, transportasi, dan layanan publik.
Sebagai wilayah kepulauan, mobilitas antarpulau sangat bergantung pada cuaca dan musim. Kondisi ini sering kali menjadi penghambat distribusi layanan pendidikan dan pembinaan sumber daya manusia. Dalam situasi seperti ini, kehadiran sumber daya lokal yang berkomitmen menjadi sangat penting. Di titik inilah peran alumni PGA menemukan relevansinya, bukan hanya sebagai pendidik formal, tetapi sebagai penggerak sosial di tengah masyarakat.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersamaan dan kesinambungan pengabdian melahirkan Ikatan Alumni Pendidikan Guru Agama Negeri Maluku Utara (IKAPGAMU). Organisasi ini menjadi wadah silaturahmi, konsolidasi gagasan, serta penguatan peran alumni PGA lintas angkatan. IKAPGAMU tidak berhenti pada ikatan nostalgia, tetapi berkembang sebagai ruang refleksi dan aksi kolektif dalam bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Momentum penting perjalanan IKAPGAMU salah satunya tercermin dalam pelaksanaan Reuni IKAPGAMU ke-VII yang berlangsung pada 23 hingga 28 Desember 2025 di kawasan wisata Danau Tolire, Kota Ternate. Reuni ini mempertemukan alumni lintas angkatan dalam suasana kebersamaan yang sarat makna, tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menyusun langkah pengabdian ke depan.
Ketua IKAPGAMU, Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd, alumni PGA tahun 1990 yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Halmahera Utara, menegaskan bahwa reuni alumni memiliki makna yang lebih luas dari sekadar temu kangen.
“Kenangan masa lalu yang kita rangkai bukan berhenti pada sebatas nostalgia, melainkan memperkuat langkah pengabdian kita ke depan. Karena kita adalah insan yang lahir sebagai pendidik, walaupun di antara kita kini mengabdi di instansi dan bidang yang berbeda,” ujarnya.
Dari kesadaran kolektif tersebut, IKAPGAMU kemudian melahirkan sebuah lembaga pengabdian yang lebih terstruktur, yakni Yayasan PGAMU (Pendidikan Gerbang Anak Maluku Utara). Yayasan ini didirikan dan digerakkan oleh IKAPGAMU sebagai wujud nyata komitmen alumni dalam memperkuat pendidikan dan pengabdian sosial-keagamaan di Maluku Utara.
Ketua Yayasan PGAMU, Sahjad M. Aksan, alumni PGA tahun 1991, menjelaskan bahwa pendirian yayasan ini berangkat dari kesadaran bersama akan pentingnya kesinambungan nilai dan kerja nyata.
“Yayasan ini hadir atas dasar kesadaran akan pentingnya kebersamaan dan kesinambungan pengabdian. PGAMU menjadi ruang konsolidasi gagasan sekaligus sarana penguatan alumni dalam pendidikan agama dan sosial. Melalui yayasan ini, nilai-nilai PGA terus dirawat dan diwujudkan dalam kerja nyata berupa menghadirkan madrasah-madrasah di wilayah Maluku Utara,” ungkapnya.
Melalui Yayasan PGAMU, alumni PGA tidak hanya menjaga ingatan, tetapi juga menghadirkan masa depan bagi generasi muda, terutama anak-anak di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan. Pendirian dan penguatan madrasah menjadi salah satu bentuk nyata dari ikhtiar tersebut.

Keragaman latar pengabdian para alumni menjadi kekuatan tersendiri bagi IKAPGAMU. Rahma Abdurrajak, alumni PGA tahun 1990 yang kini menjabat sebagai Kepala MIN 4 Tidore Kepulauan, mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari keluarga besar PGA.
“Saya bangga menjadi bagian dari alumni PGA dan tergabung dalam IKAPGAMU, karena oleh dan dari lembaga itu terpatri pengabdian tanpa batas. Semoga PGA tetap dikenang sebagai lembaga yang telah melahirkan banyak tokoh agama dan pendidik berdedikasi dari Maluku Utara untuk negara dan bangsa yang kita cintai,” tuturnya.
Sementara itu, Ikram M. Zen, alumni PGA tahun 1991 yang kini menjabat sebagai Camat Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, memaknai PGA sebagai fondasi nilai yang terus hidup dalam perjalanan pengabdian alumni.
“PGA mengajarkan kami bahwa ilmu bukan untuk disimpan, tetapi untuk dititipkan pada kehidupan. Ketika PGA itu tiada, nilai-nilainya justru menemukan jalannya sendiri melalui pengabdian para alumni. IKAPGAMU hadir sebagai pengikat ingatan dan penguat langkah agar api pengabdian itu tetap menyala meski zaman terus berubah,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan oleh M. Taher Mujuddin, alumni PGA tahun 1988 yang saat ini bertugas sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Halmahera Tengah.
“PGA mungkin telah berhenti sebagai lembaga, tetapi ia tidak pernah selesai sebagai nilai. Dalam IKAPGAMU, kami merawat warisan, menyatukan kenangan, menguatkan persaudaraan, dan mengembangkan pengabdian agar tetap bermakna bagi generasi setelah kami,” katanya.
Reuni IKAPGAMU tidak hanya diisi dengan temu kangen, tetapi juga dengan agenda-agenda substantif seperti bedah buku, ziarah ke makam alumni yang telah wafat, evaluasi kegiatan pendidikan yang telah berjalan, serta penyusunan rencana program tahunan Yayasan PGAMU dan IKAPGAMU. Model reuni semacam ini menegaskan bahwa kebersamaan alumni bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan energi kolektif untuk menjawab tantangan masa kini.
Sebagian alumni PGA juga mengabdikan diri di bidang konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, mendirikan sekolah-sekolah swadaya, serta melakukan pendampingan di wilayah penyangga hutan dan taman nasional. Nilai kedisiplinan, keteladanan, dan keberpihakan pada masyarakat kecil yang dahulu ditanamkan di bangku PGA menemukan wujud nyatanya dalam kerja-kerja tersebut.
IKAPGAMU dan Yayasan PGAMU hari ini berdiri sebagai bukti bahwa sebuah lembaga pendidikan boleh saja berhenti oleh kebijakan, tetapi nilai tidak pernah bisa dipadamkan. Nilai itu hidup dalam ingatan, bergerak dalam kebersamaan, dan tumbuh dalam pengabdian.
Dari Maluku Utara, para alumni PGA menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus menunggu kemudahan atau fasilitas yang sempurna. Ia lahir dari kesadaran, dirawat dalam kebersamaan, dan diwujudkan dalam kerja nyata. PGA mungkin telah menjadi bagian dari sejarah, tetapi melalui IKAPGAMU dan PGAMU, nilai-nilainya terus berjalan—menjadi pengabdian yang hidup, dari Maluku Utara untuk Indonesia.






