Penulis : Jamal Adam
TIKEP – Upaya memperkuat peran generasi muda dalam pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di Maluku Utara terus dilakukan melalui kegiatan ECO Camp 4 Burung Indonesia Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 30 Oktober hingga 1 November 2026, ini dilaksanakan di Stasiun Penelitian Resor Tayawi, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Wilayah Weda, Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.
ECO Camp 4 Burung Indonesia menjadi ruang belajar bersama bagi generasi muda dan komunitas lingkungan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kapasitas dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati.
Maluku Utara dikenal memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun, kekayaan tersebut juga menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan dan kehilangan habitat akibat alih fungsi lahan hingga praktik penangkapan, pemeliharaan, dan perdagangan satwa liar.
Salah satu kelompok satwa yang menghadapi tekanan tersebut adalah burung, termasuk berbagai jenis burung paruh bengkok yang memiliki nilai penting bagi keanekaragaman hayati Maluku Utara. Ancaman terhadap populasi dan habitat alaminya menjadi salah satu tantangan yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak.
Di sisi lain, berkembangnya organisasi dan komunitas lingkungan di Maluku Utara membuka peluang besar bagi keterlibatan generasi muda dalam gerakan konservasi. Namun, peningkatan kapasitas dalam pemantauan keanekaragaman hayati, pengolahan data, komunikasi lingkungan, serta pengembangan aksi konservasi masih menjadi kebutuhan penting.
Melalui ECO Camp 4, Burung Indonesia bersama Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata berupaya memperkuat kemampuan generasi muda agar dapat berkontribusi secara nyata dalam upaya pelestarian alam di wilayahnya masing-masing.
Sebanyak 25 peserta berusia 17 hingga 30 tahun dari berbagai komunitas dan organisasi pemuda yang telah melalui proses seleksi mengikuti kegiatan tersebut. Selama tiga hari, peserta mendapatkan pembelajaran yang memadukan penyampaian materi, diskusi, praktik, serta kegiatan lapangan.
Materi yang diberikan meliputi pengenalan ekosistem dan keanekaragaman hayati Maluku Utara, metode pemantauan keanekaragaman hayati dan penilaian lingkungan, hingga pengenalan analisis data hasil pemantauan.
Peserta juga dibekali keterampilan dalam menyusun kampanye lingkungan melalui konten audio-visual, strategi komunikasi dan penyadartahuan, serta penguatan kapasitas untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam upaya konservasi.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada analisis SWOT sebagai salah satu pendekatan untuk membantu mengidentifikasi persoalan, potensi, tantangan, dan peluang dalam merancang aksi konservasi.
Sementara itu, sesi Theory of Change yang sebelumnya direncanakan dalam rangkaian kegiatan belum dapat dilaksanakan karena beberapa pertimbangan dan direncanakan akan dilaksanakan pada kesempatan berikutnya.
Kegiatan ini menghadirkan fasilitator dari Burung Indonesia, Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, serta praktisi media.
Dari Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, fasilitator yang terlibat adalah Sukardi Saleh dan Yoyon Arfita. Sementara dari Burung Indonesia hadir Benny Aladin dan Andi Rahman Tuhuteru.

ECO Camp 4 juga menghadirkan Mario Panggabean, seorang praktisi media yang fokus pada isu lingkungan dan generasi muda, untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para peserta.
Pemilihan Stasiun Penelitian Resor Tayawi sebagai lokasi kegiatan memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar langsung di tengah kawasan yang memiliki kekayaan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Melalui kegiatan lapangan, peserta dapat mengenal lingkungan secara langsung serta memahami pentingnya data dan pengamatan sebagai dasar dalam mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
Ketua Panitia ECO Camp 4 Burung Indonesia, Andi Rahman Tuhuteru, mengatakan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan kader-kader konservasi muda di Maluku Utara.
«“ECO Camp 4 ini diharapkan dapat melahirkan kader konservasi muda, serta terbentuknya individu maupun kelompok muda yang menjadi pelopor konservasi lingkungan, bekerja sama dengan Burung Indonesia dan Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati,” ujarnya.»
Kegiatan tersebut juga mendapat sambutan positif dari Kepala SPTN I Wilayah Weda, Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Iik Ikhwan Puadin, S.P., M.Si.
Menurutnya, ECO Camp menjadi kegiatan yang penting dan strategis dalam mempersiapkan generasi muda untuk terlibat secara langsung dalam upaya pelestarian lingkungan.
«“Kegiatan ini sangat strategis untuk membekali generasi muda dengan keterampilan pemantauan, kampanye lingkungan, dan aksi konservasi nyata,” katanya.»
Ia berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut melalui aksi nyata di lingkungan masing-masing.
«“Kami berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan yang memperkuat jejaring pelestarian alam serta menjaga kelestarian Taman Nasional Aketajawe-Lolobata bersama keanekaragaman hayatinya,” tambahnya.
Tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan individu, ECO Camp 4 Burung Indonesia juga diharapkan dapat memperkuat jejaring antarkomunitas dan organisasi pemuda yang selama ini memiliki perhatian terhadap isu lingkungan.
Kolaborasi antara generasi muda, komunitas, Burung Indonesia, dan Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata diharapkan dapat menjadi kekuatan bersama dalam menjaga kekayaan alam Maluku Utara.
Melalui ECO Camp 4 Burung Indonesia, para peserta diharapkan mampu menjadi pelopor konservasi di wilayahnya masing-masing, mengenali persoalan lingkungan, mengomunikasikan pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati, serta menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh menjadi aksi nyata.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan generasi muda sebagai kader konservasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan serta keanekaragaman hayati Maluku Utara.





