Oleh : Jamal Adam
HALTENG – Empat ekor Kasturi Ternate (Lorius garrulus) akhirnya kembali ke habitat alaminya setelah menjalani proses rehabilitasi yang panjang selama kurang lebih tiga tahun. Pelepasliaran dilakukan di kawasan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pemulihan populasi satwa liar di alam.
Keempat burung yang dilepasliarkan tersebut masing-masing bernama Kapita, Kie, Gama, dan Raha. Nama-nama itu telah melekat selama masa rehabilitasi dan menjadi bagian dari perjalanan panjang mereka menuju kebebasan.

Dari empat individu yang dilepasliarkan, satu ekor merupakan hasil penyerahan masyarakat dari Kabupaten Halmahera Timur, sedangkan tiga ekor lainnya merupakan hasil penyelamatan oleh Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Weda pada tahun 2023. Selanjutnya, seluruh burung tersebut menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Burung Endemik Suaka Paruh Bengkok Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.
Perjalanan menuju pelepasliaran bukanlah proses yang mudah. Saat pertama kali tiba di pusat rehabilitasi, sebagian burung berada dalam kondisi yang kurang baik, seperti mengalami stres, tubuh kurus, kesehatan yang menurun, serta kondisi bulu yang belum sempurna. Selama masa rehabilitasi, petugas juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari gangguan predator, perubahan cuaca, hingga penyesuaian suhu lingkungan yang dapat memengaruhi proses pemulihan satwa.

Melalui perawatan intensif, pemantauan perilaku, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala, kondisi keempat burung terus menunjukkan perkembangan yang positif. Setelah menjalani observasi dan evaluasi menyeluruh selama kurang lebih tiga tahun, Kapita, Kie, Gama, dan Raha akhirnya dinyatakan sehat serta layak untuk kembali menghuni hutan Halmahera.
Kegiatan pelepasliaran ini merupakan hasil kerja sama antara Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata dan Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah. Kegiatan tersebut turut disaksikan oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Halmahera Tengah, serta para pihak yang memiliki komitmen terhadap upaya pelestarian sumber daya alam.
Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangaji, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.

“Kegiatan hari ini merupakan bagian dari upaya pelestarian lingkungan. Ini adalah bagian dari langkah-langkah menyongsong Hari Konservasi Alam Nasional yang akan diperingati satu bulan ke depan, sekaligus menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah dalam menjaga kelestarian sumber daya alam dan keanekaragaman hayati,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Budhi Chandra, menjelaskan bahwa keberhasilan pelepasliaran ini merupakan hasil dari proses rehabilitasi yang panjang dan penuh kesabaran.
“Burung-burung ini telah menjalani proses rehabilitasi dalam waktu yang panjang di Pusat Rehabilitasi Burung Endemik Suaka Paruh Bengkok Taman Nasional Aketajawe-Lolobata sejak tahun 2023. Untuk sampai ke tahap ini, mereka telah melalui observasi dan pemeriksaan kesehatan yang ketat secara menyeluruh serta dinyatakan sehat dan layak oleh dokter hewan untuk dilepasliarkan,” jelasnya.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, Kepala SPTN Wilayah I Weda, Iik Ikhwan Puadin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses rehabilitasi hingga pelepasliaran.
“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada petugas Suaka Paruh Bengkok dan SPTN Wilayah I Weda atas keterlibatan, baik secara langsung maupun tidak langsung, hingga kita sampai pada titik di mana burung-burung ini berhasil kembali ke alam,” ungkapnya.
Pelepasliaran Kapita, Kie, Gama, dan Raha bukan sekadar mengembalikan empat individu burung ke habitatnya. Lebih dari itu, momen ini menjadi simbol keberhasilan kolaborasi, dedikasi, dan kesabaran dalam upaya konservasi satwa liar. Setelah melewati berbagai tantangan selama masa rehabilitasi, keempat Kasturi Ternate tersebut kini kembali mengepakkan sayapnya di hutan Halmahera, menjalankan peran alaminya sebagai bagian dari ekosistem hutan yang lestari.
Di balik kepakan sayap yang kembali menyatu dengan rimba, tersimpan kisah panjang tentang harapan, kerja keras, dan komitmen untuk menjaga warisan alam Indonesia. Sebuah kisah yang akan terus hidup, selama hutan tetap berdiri dan kicau Kasturi Ternate masih menggema di alam bebas.







