banner 728x250
Tidore  

Siswa Baru SMK Negeri 4 Kota Tidore Kepulauan Belajar Konservasi di Suaka Paruh Bengkok Taman Nasional Aketajawe-Lolobata

Penerimaan siswa tamu Ambalan SMK Negeri 4 Tidore kepulauan di Suaka paruh Bengkok

Oleh: Jamal Adam

TIKEP – Sebanyak 45 siswa peserta Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan SMK Negeri 4 Kota Tidore Kepulauan Tahun Pelajaran 2026/2027 mengikuti kegiatan wisata edukasi konservasi di Suaka Paruh Bengkok, Pusat Rehabilitasi Burung Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Penerimaan Tamu Ambalan yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan, memperkenalkan pentingnya konservasi sumber daya alam, serta membangun karakter generasi muda yang mencintai kelestarian alam sejak dini.

Rombongan peserta diterima langsung oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Aketajawe-Lolobata, Iik Ikhwan Puadin, S.P., M.Si., didampingi petugas Suaka Paruh Bengkok.
Dalam penerimaannya, Iik Ikhwan Puadin menjelaskan bahwa Suaka Paruh Bengkok tidak hanya berfungsi sebagai pusat rehabilitasi burung, tetapi juga menjadi sarana edukasi konservasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Suaka Paruh Bengkok bukan hanya menjadi tempat rehabilitasi satwa, tetapi juga merupakan kelas alam bagi generasi muda untuk belajar tentang pentingnya konservasi. Semoga pengalaman yang diperoleh hari ini menjadi bekal bagi adik-adik dalam menjaga kelestarian alam, bahkan kelak ada di antara adik adik yang mengabdikan diri di bidang konservasi,” ujarnya.

Usai penyambutan, para peserta mengikuti wisata edukasi yang dipandu oleh Musdalifah Wardani. Dalam kegiatan tersebut, para siswa dikenalkan dengan ekosistem kawasan konservasi, fungsi Suaka Paruh Bengkok sebagai pusat rehabilitasi burung, serta berbagai upaya pelestarian satwa liar. Para peserta juga aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai konservasi dan keanekaragaman hayati.
Di tepi waduk kawasan suaka, Musdalifah mengajak para siswa memaknai pentingnya menjaga alam sebagai tanggung jawab bersama.

“Hari ini kita bukan hanya berjalan-jalan melihat hutan dan satwa, tetapi belajar memahami kehidupan mereka. Menjaga alam bukan hanya tugas petugas konservasi, melainkan tanggung jawab kita semua. Mulailah dari hal sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tumbuhan, dan tidak menangkap satwa liar. Setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini adalah hadiah bagi bumi di masa depan,” pesannya.

Sementara itu, Kepala SMK Negeri 4 Kota Tidore Kepulauan, Umar Abdullah, S.Pd., saat dihubungi usai pelepasan peserta, mengatakan bahwa pembelajaran di alam merupakan bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik.

“Pendidikan terbaik tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Hari ini alam menjadi ruang belajar, dan hutan menjadi guru yang mengajarkan arti kehidupan, tanggung jawab, serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Kami berharap pengalaman ini mampu menumbuhkan kepedulian dan kecintaan siswa terhadap alam sehingga kelak mereka menjadi generasi yang turut menjaga warisan hayati bangsa,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Balai Taman Nasional Aketajawe-Lolobata bersama SMK Negeri 4 Kota Tidore Kepulauan berharap dapat menumbuhkan kesadaran konservasi di kalangan generasi muda. Edukasi yang diberikan sejak usia sekolah diharapkan menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang peduli terhadap pelestarian hutan, satwa liar, dan keanekaragaman hayati Indonesia.

banner 728x250 banner 728x250
banner 728x250