banner 560

Masalah Golkar Adalah Ketua Umum

  • Bagikan
banner 560

Oleh : Muhammad Syukur Mandar
(Ketua Gerakan Golkar Baru)

Airlangga Hartarto (AH) Ketua Umum Golkar, semakin menunjukan keseriusannya menjadi Capres Golkar 2024. Berbagai manuver terus dilakukan, bagi saya sah-sah saja, karena di politik manuver politik itu kebutuhan seorang politisi.

Ada dua perspektif politik dalam melihat Golkar saat ini, yaitu Perspektif antara AH dan Golkar, dan bila kita tarik pada kepentingan pemilu 2024, dimana ada pemilu legislatif dan ada pula pemilu Presiden.

Maka saya berpandangan manuver AH lebih fokus pada pemilu Presiden 2024 dan Golkar adalah kendaraan politik AH menjadi Capres 2024, dan posisi itulah hemat saya Masalah Serius Golkar.

Sementara Golkar secara kelembagaan harus fokus pada pemilu legilatif, dimana kepentingan besar kader ada di sana dan sekaligus menjadi penentu posisi di Golkar akan datang. Selain tentunya Golkar juga akan fokus pada pemilu presiden.

Bagi saya Golkar saat ini, tidak atau sulit memiliki capres 2024 yang potensial, apalagi dari internal, karena itu posisi Golkar kedepan ditentukan oleh kemenangannya pada pemilu legislatif, sebab posisi itu akan menjadikan Golkar penentu politik dan tentu saja sebagai bargaining posisi politik dikabinet dan pemerintahan 2024.

Pertanyaan mendasarnya, manuver AH sebagai Capres Golkar menguntungkan siapa? Golkar atau AH ?, atau lebih rendahan dari itu, lebih tepat disebut bargening posisi politik AH dan kelompoknya dalam menjaga posisi mereka dengan kekuasaan semata ?, Wallahualam, hanya Tuhan yang tahu.

Golkar nampaknya harus belajar dari PDIP dan Partai Demokrat, tentu saja bukan soal cara mengelola partai. PDIP terus dihujat, tapi rating surveinya naik terus bahkan makin tinggi, samapula dengan partai Demokrat, diganggu terus, tapi surveinya juga justru makin naik.

Sementara Golkar, tidak diganggu, tidak dihujat publik, adem adem saja, tapi ranting survei Golkar malah turun terus?. Padahal dalam perspektif partai, Golkar justru partai yang terbuka. Istilah banyak pengamat, di Golkar itu tidak ada pemegang saham mayoritas dalam partai. Pertanyaannya, Apakah salah dan dosa Golkar?

Saya berpendapat, AH efek adalah salah satu masalah penghalang naik dan penyebab turunnya ranting survei di Golkar.

AH efek sebab serius bagi Golkar, karena itu sekuat apapun manuver politik AH dan meskipun didukung perangkat buzzer yang canggih sekalipun, sulit merubah presepsi dan penilaian publik pada Golkar.

Paling menang image di medsos, tapi faktanya tidak. Saya kira kekhawatiran saya Golkar boneka pemilu dan AH Capres boneka 2024 akan terjadi.

Jika model manuver Golkar dan AH tetap seperti kita lihat, dimana AH tetap dipaksakan sebagai Capres, maka yakinlah bahwa durasi waktu tersisa menuju ke 2024, hanya akan dihabiskan Golkar untuk mengurangi dan menurunkan elektabilitas Golkar secara nyata.

Harus Golkar sadari bahwa yang publik kasih rapot merah itu AH. Meskipun lebih pada personal image, tetapi karena AH ketum dan sekaligus Capres Golkar, maka tentu sulit dipisahkan penilaian dan akibat yang didapatkan Golkar.

logikanya, Golkar dianggap mendukung dan mengusung Calon Presiden yang dalam tanda petik diduga terlibat banyak skandal. Sebab politik itu publik image, kapan seseorang atau sebuah lembaga diterpa image negatif, pasti sulit mendapatkan trust politik lagi. Kecuali melakukan perubahan total.

Golkar adalah partai pendukung Pemerintahan Jokowi, sama pula dengan PDIP, tetapi dalam memperoleh insentif politik rakyat, justru Golkar yang paling minim bahkan dianggap negatif. Sekali lagi posisi ini bukan sebabnya karena Golkar, tapi lebih pada faktor AH efek gagal sebagai Menko ekonomi, ekonom menganggap AH gagal dalam merencana serta mendorong kebijakan dan pemulihan ekonomi nasional pasca Covid.

Karena itu sekali lagi, manuver apapun dilakukan Golkar dan AH, sejauh posisi politiknya Golkar masih tetap mengusung AH sebagai Capres Golkar, hemat saya Golkar akan bermasalah pada memperoleh dukungan publik.

Solusinya sebetulnya sederhana saja, jika benar benar AH dan jajarannya di Golkar lebih berpikir pada kepentingan bangsa dan khususnya Golkar ;

Pertama, Golkar harus rekonsiliasi kebijakan dalam menetapkan AH selaku Capres Golkar, artinya Golkar harus segera merevitalisasi keputusan AH sebagai Capres.

Kedua, gelar Konvensi Capres melibatkan Tokoh partai dan Non Partai potensial sebagai Capres & cawapres 2024. Dengan langkah konvensi, saya percaya bahwa Golkar akan dapat kembalikan kejayaannya sebagai pemenang pemilu dan Golkar menjadi partai pembuka dan perintis jalan demokrasi. Cara itulah Golkar terselamatkan ketika ditahun transisi Orde baru ke reformasi dimana Golkar mau dibubarkan.

Jakarta, 27 Oktober 2021.

  • Bagikan