TERNATE – Keberlanjutan lingkungan sering dipahami sebagai isu besar. Padahal, ia hidup dalam keseharian. Dari cara menggunakan listrik, mengelola sampah, hingga menjaga ruang hidup bersama. Perubahan jarang dimulai dari langkah besar. Ia tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan berulang, lalu menjadi kebiasaan.
Pada 31 Maret 2007, lebih dari 2,2 juta orang di Sydney mematikan lampu selama satu jam. Aksi ini dikenal sebagai Earth Hour. Sederhana, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Seiring waktu, maknanya bergeser. Fokusnya tidak lagi pada satu jam, tetapi pada apa yang dilakukan setelahnya.
Di titik itu, keberlanjutan tidak lagi bergantung pada momentum. Ia menjadi soal konsistensi. Kesadaran perlu diterjemahkan menjadi praktik yang bisa diulang. Pendekatan ini terlihat dalam dua konteks berbeda: ruang kota dan wilayah pesisir.
Di Kota Ternate, semangat Earth Hour berkembang menjadi ruang edukasi publik. Untuk kali kedua, Pemerintah Kota Ternate bersama Harita Nickel menggelar Earth Hour 60+ di Benteng Oranje pada 25 April. Selama satu jam pemadaman, masyarakat diajak memberi ruang bagi bumi untuk “beristirahat”, sekaligus mendorong perubahan perilaku sederhana di rumah, seperti mematikan perangkat yang tidak digunakan.
“Kesadaran menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana di rumah,” jelas Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly.
Selain pemadaman lampu, masyarakat diajak memahami pengurangan plastik dengan pembagian 1.000 kantong kain, pentingnya ruang terbuka hijau, serta kebiasaan penggunaan energi yang lebih bijak.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate, Muslih Muhammad, melihat kolaborasi ini relevan dengan arah pembangunan kota. “Kolaborasi antara pihak swasta dan pemerintah secara bersamaan mendorong penguatan serta implementasi pengelolaan lingkungan di lapangan,” jelasnya.
Namun kesadaran di ruang kota memiliki batas jika tidak terhubung dengan realitas yang lebih konkret.







